Tentang Kami Redaksi

Gandeng Kementerian ATR, Pegadaian akan Realisasikan Gadai Tanah

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Jakarta, Parlemen Rakyat

PT Pegadaian (Persero) dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) pelaksanaan kerjasama dibidang pertanahan dan tata ruang untuk menyinergikan data dan informasi serta pensertifikatan.

Penandatangan MoU ini dilakukan oleh Direktur Produk PT Pegadaian Harianto Widodo dan Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Sudarsono, yang disaksikan oleh Direktur Utama Pegadaian Sunarso dan Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan A. Djalil, pada Rabu (18/4/2018) di Jakarta.

Sunarso menjelaskan tujuan dari penandatangan MoU ini adalah untuk memberikan payung hukum bagi Pegadaian yang akan meluncurkan produk pergadaian di bidang pertanahan. "Produk tersebut diluncurkan, guna memanfaatkan program nasional sertifikasi Iahan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), terutama tanah pertanian”.

Dia menambahkan payung hukum tersebut diperlukan, mengingat tanah pertanian bersertifikat dan produktif dalam konsep gadai konvensional sebenarnya bukan merupakan objek gadai. Untuk itu, menurut Sunarso, gadai tanah ini nantinya akan menggunakan konsep gadai syariah dengan akad Qardh Rahn.

Sementara itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan A. Djalil menyambut baik kerjasama ini dalam rangka menumbuhkan iklim usaha yang kondusif bagi masyarakat dan juga untuk memperluas sumber pendanaan dari lembaga keuangan bukan bank secara cepat, mudah dan murah, sehingga Pegadaian sebagai BUMN bisa membantu menggerakkan perekonomian nasional.

Pemerintah menargetkan 126 juta sertifikat tanah yang seharusnya dimiliki oleh masyarakat, sejauh ini baru 51 juta sertifikat yang dimiliki oleh masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah pada tahun ini menargetkan pembagian 7 juta sertifikat tanah dan meningkat menjadi 9 juta sertifikat pada 2019.

Sunarso menjelaskan dengan adanya MoU ini maka Pegadaian dan Kementerian ATR/BPN dapat tukar menukar data dan/atau informasi di bidang pertanahan terkait pensertipikatan tanah calon nasabah dan sertipikasi tanah aset Pegadaian, serta penanganan permasalahan tanah aset Pegadaian.

Selain itu, kerjasama ini juga mengenai kegiatan akses reform di lokasi yang disepakati oleh kedua belah pihak dan yang terakhir mengenai pendidikan dan pelatihan. ”Pegadaian nanti bisa mendapatkan data dan informasi pertanahan mengenai calon nasabah dengan cara manual maupun melalui host-to-host dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang," jelas Sunarso.

Sementara itu Direktur Produk Harianto Widodo mengatakan, Pegadaian terus melakukan pengembangan produk gadai termasuk di bidang pertanahan. "Salah satunya produk Gadai Tanah yang akan segera diluncurkan setelah sebelumnya mendapatkan persetujuan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan juga Fatwa Dewan Syariah Nasional. Dengan adanya kerjasama MoU dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Pegadaian melengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan”.

Harianto menambahkan Pegadaian akan membidik nasabah mikro terutama petani yang memiliki sawah, namun tidak memiliki agunan yang bersifat gadai atau fidusia sehingga itu bisa digunakan untuk mengakses pembiayaan.

“Produk ini adalah pinjaman mikro dengan nominal Rp 10-15 juta dan nanti diberikan bagi yang yang memiliki sertifikat tanah untuk kebun, maupun sawah produktif," jelasnya. Diharapkan dengan adanya produk Gadai Tanah ini, Pegadaian dapat mencapai target pendapatan di tahun 2018 ini sebesar Rp 12,5 triliun dan juga target nasabah sebanyak 11,5 juta nasabah pada tahun ini, "tutup" Harianto. (Ahr)