Tentang Kami Redaksi

Menag Luncurkan Jam Kesehatan Haji

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Parlemenrakyat.com @ Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meluncurkan Jam Kesehatan Haji. Jam dibuat oleh Direktur Utama Rumah Sakit Haji, Syarief Hasan Lutfie (SHL), sehingga jam itu diberi nama SHL HI Watch, merupakan aplikasi yang dapat memantau keberadaan posisi penggunanya melalui GPS dan juga bisa mencatat kondisi kesehatan jamaah.

“Hari ini RS Haji meluncurkan jam kesehatan haji sebagai bentuk kontribusi bagi calon jemaah haji dan umrah kita bagaimana medical record jemaah tercatat baik,” ujar Menag Lukman saat meluncurkan Jam Kesehatan Haji di Rumah Sakit Haji Jakarta, Pondok Gede, Kamis (19/04). Menag juga meresmikan Pusat Pelayanan Terpadu Kesehatan Haji dan Umrah dan Instalasi Hemodialisis RSHJ.

Menurut Lukman, jam kesehatan oleh RS Haji ini untuk membantu seluruh jamaah haji kita dan umrah, juga bisa mencatat seluruh kondisi kesehatan yang umum misalnya detak jantungnya. Bahkan dengan jam itu bagi posisi yang bersangkutan bisa diketahui karena ini berbasis GPS.

Jam ini menjadi alat pembinaan meningkatan daya tahan tubuh untuk mencapai istithaah badaniyah, dan juga sebagai pengukur detak jantung, yang bekerja memberikan peringatan dini dari pada penggunanya.

Lukman menuturkan, melalui jam tersebut nantinya akan bisa diperoleh berbagai catatan medis kesehatan jamaah haji atau umrah. Karena itu, saat akan melakukan konsultasi, dokter juga dapat dengan mudah mengidentifikasi kesehatan jamaah. "Sehingga memudahkan yang bersangkutan ketika mau konsultasi atau harus mendapatkan pelayanan kesehatan oleh dokter dan perawat," katanya.

Direktur Utama Rumah Sakit Haji Jakarta, Syarief Hasan Lutfie mengatakan, Rumah Sakit Haji tentu harus mempunyai keunggulan dalam pelayanan kesehatan haji, sehingga pihaknya membuat fasilitas dengan inovasi-inovasi program pelayanan terpadu haji dan umrah.

Menurut dia, pihaknya sudah mengeluarkan berbagai macam produk haji berdasarkan hasil riset, seperti sandal haji, korset haji dan jam digital yang baru dilucurkan tersebut. "Kalau yang jam haji itu juga bisa mendeteksi tingkat kecapekan seseorang. Sebelum capek, dia sudah ada tanda atau warning untuk tidak meneruskan kegiatannya," jelasnya.

Syarief menjelaskan, jam itu sudah menjadi hak paten dari hasil penelitian yang dilakukannya, sehingga dari penelitian itu lalu dimasukkan dalam kemasan digital. Penjualan jam ini untuk sementara hanya dilakukan di RS Haji Jakarta sebagai distributor satu-satunya. Jam ini dijual dengan harga Rp 750 ribu belum termasuk pajak.

Namun, tambah dia, jam digital ini ke depannya tidak menutup kemungkinan akan menjadi suatu kebijakan di Kemenag. Diharapkan calon jamaah yang akan berangkat ke depannya bisa diberikan jam kesehatan ini. "Tadi Pak Mentri mengatakan bahwa insya Allah tahun depan kalau itu sudah siap bisa diharapkan jadi suatu kebijakan. Pengadaan terhadap jamaah. Kita minta doanya," ujarnya. (ks)