Tentang Kami Redaksi

Apa Kata Perempuan Peneliti Sastra Anak

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Jakarta, Parlemen Rakyat

Kelompok Pecinta Bacaan Anak (KPBA) adalah organisasi nirlaba independen yang digagas oleh Dr. Murti Bunanta SS. MA. KPBA hari ini mengadakan Seminar Sastra Anak Nasional Pertama, diselenggarakan pada tanggal 21 hingga 22 April 2018, kerjasama KPBA dengan Indonesian Board on Books for Young People (INABBY), bertempat di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Acara tersebut dimaksudkan memperingati hari Kartini dan sekaligus menyatakan pada masyarakat Indonesia bahwa keberadaan para peneliti sastra anak adalah penting untuk kemajuan kualitas bacaan anak. Selain itu, derajat ilmu sastra anak adalah setara pentingnya dengan ilmu lainnya dan juga bersifat ilmiah.

Raymond Agus selaku Ketua Panitia yang juga Penerbit mengatakan, dengan diadakan seminar ini supaya peserta seminar mendapatkan ilmu dan mau berbagi pengalaman bahwa kesusastraan saat ini sedang mempunyai dilema dan menjadi pembahasan dalam seminar ini.

Dalam seminar ini kami hadirkan 9 pembicara perempuan dari berbagai profesi dan universitas di Indonesia yaitu: Dr Murti Bunanta (Universitas Islam Negeri, Jakarta); Dr Surya Sili (Universitas Mulawarman, Samarinda); Dr Yulianeta (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung); Dr Dina Dyah (Universitas Jember); Dr Tati D. Wardi PhD (Universitas Islam Negeri, Jakarta); Susanti Agustina, M.I.Kom, CH,CHt biblioterapis (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung); Emilia Nazir BEd (EC), Med (EC) (Sekjen INABBY, Jakarta); Larasati (Ketua KPBA Jogyakarta); Wulandini ST, MSi (KPBA Jakarta).

Di jelaskan, acara ini didukung oleh Perpustakaan Nasional Indonesia dan PT Bestari, sebuah penerbitan buku anak. Selain itu, acara seminar akan ditandai, seperti tradisi KPBA, dalam setiap acara, akan diserahkan donasi buku kepada 10 komunitas yang tersebar di Bali, Lombok, Lampung, Palu, Papua, Serang Banten, Jakarta, dan Jogyakarta. Donasi buku didukung oleh PT Mandiri Manajemen Investasi, kata Raymond.

Dia menambah, seminar ini adalah sebuah diskusi yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, seperti penulis buku anak, akademisi, penerbit, pendidik, ilustrator, editor, guru, pustakawan, mahasiswa, dosen, dan orang tua. Peserta datang dari berbagai daerah: Samarinda, Medan, Jogya, Jember, Jakarta, Solo, Bali, Lombok, Bandung, dan sebagainya.

"Diharapkan seminar ini bisa memberikan masukan pada peserta, agar peserta bisa memilih buku untuk anak anaknya, peserta juga bisa membina murid muridnya untuk bisa menghargai sebuah buku kesusastraan dari budaya di negeri kita sendiri dan bisa menghasilkan sebuah pengetahuan tentang bagaimana menerbitkan sebuah bacaan anak yang barkualitas dan mencari strategi untuk mempromosikan bacaan anak ke dunia intenasional," ucap Raymond.

Dr. Dina Dyah Kusumayanti, M.A, mengatakan, penelitian ini bertujuan menemukan kekerasan simbolik terutama dari segi isi dan bahasa yang ada dalam buku sastra anak yang ditulis oleh penulis anak Indonesia. Selain itu penelitian ini ingin membuktikan bahwa teori kekerasan simbolik yang digagas oleh Pierre Bourdieu (1977; 1984; 1989; 1990; 1991) relevan tidak hanya pada persoalan relasi sosial dalam masyarakat.

"Tetapi juga dapat diaplikasikan dalam kajian teks sastra anak, yang dalam studi ini berupa teks sastra anak hasil karya penulis anak Indonesia," ujar Dina. (Ahr)