Tentang Kami Redaksi

Kinerja Manajemen Telkom Di Tengah Krisis

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com


Jakarta, Parlemen Rakyat

Telkom terancam Kolaps, hampir di setiap perusahaan yang dipimpin Alex, selalu muncul problem besar. Saat memimpin Telkom sebagai CEO, Satelit Telkom-1 mengalami kerusakan permanen dan menjadi sampah antariksa. Meresphon hal tersebut, Forum Aktifis Jakarta (Fajar) menggelar diskusi bahas "Di Pimpin Alex, Masalah datang Silih Berganti." di Dunkin Donat Menteng, Jakarta.

Karman BM, Executive Director Al Mentra Institute dalam paparannya mengatakan, "Ratusan bahkan trilyunan rupiah kerugian dialami pelanggan, perusahaan, juga negara akibat tidak berfungsi normalnya layanan satelit Telkom mulai akhir Agustus 2017 selama lebih dari 1 bulan," ujarnya di Menteng, Minggu 22 April 2018.

Karman menjelaskan, dari pemberitaan dan analisis media, penyebab kegagalan layanan satelit Telkom antara lain:

Pertama, Manajemen Telkom gagal menetapkan skala prioritas. Pengerjaan satelit pengganti Telkom-1 baru dimulai 2016, lebih dari 2 tahun setelah masa operasi satelit Telkom-1 yang berakhir pada 2014.

Kedua, Manajemen Telkom gagal menerapkan standar Quality of Service. Setelah secara sepihak menyatakan satelit Telkom-1 masih dapat beroperasi hingga 2019, manajemen Telkom tidak menyiapkan mitigasi resiko (backup) dengan menyewa dari operator satelit lain. 

Suatu ironi manakala di satu sisi Alex menyatakan bahwa setelah 2014, Telkom hanya tinggal menangguk untung dari satelit Telkom-1, di sisi lain tidak menyediakan contingency plan.

Ketiga, Manajemen Telkom gagal menerapkan standar Keterbukaan Informasi Publik. Berapa banyak korporasi (bank, lembaga penyiaran), militer, juga instansi pemerintah yang menjadi pengguna satelit Telkom-1 memahami bahwa masa operasi satelit tersebut sampai 2014? Berapa banyak yang diberi tahu bahwa Telkom tidak menyediakan backup?

Ke empat, yang lebih membuat miris, disinyalir manajemen Telkom tidak mematuhi peraturan perundangan tentang satelit. Jika ini benar terjadi tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, di samping menelan biaya sangat besar, fungsi satelit sangat strategis dan terkait erat dengan pertahanan dan keamanan negara.

"Sebelum menjabat sebagai CEO Telkom, Alex adalah CEO Telkomsel selama lebih kurang 2 tahun (2012 hingga 2014). Baru 4 bulan menjabat, tepatnya 14 September 2012, majelis hakim di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menjatuhkan vonis pailit kepada Telkomsel," ucap Karman. 

Putusan tersebut sempat mengguncang industri telekomunikasi nasional, karena Telkomsel adalah raksasa seluler terbesar. Meskipun akhirnya MA mengabulkan permohonan kasasi Telkomsel dan menolak peninjauan kembali yang diajukan PT Prima Jaya Informatika (penggugat pailit)

Problem besar lain terjadi saat Alex memimpin Telkom Metra, sebelum dipindah ke Telkomsel. Sebagai CEO Telkom Metra, Alex turut membidani konsorsium yang mengerjakan proyek MPLIK Kominfo bernilai ratusan milyar. Dari pemberitaan media, proyek tersebut pada akhirnya mangkrak.

Memperhatikan usia Alex yang telah melewati usia pensiun bagi karyawan Telkom, sudah saatnya Alex menyerahkan tongkat kepemimpinan Telkom kepada generasi penerusnya yang lebih tangguh dan punya perencanaan jangka panjang yang lebih baik. (Ahr)