Tentang Kami Redaksi

Tradisi Akhirussanah di Pesantren, Refleksi Prestasi Santri

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Parlemenrakyat.com- Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional, para pelajar disebut santri tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Dalam masyarakat santri di pesantren, dikenal tradisi akhirussanah.
Akhirussanah adalah acara rutin yang dilaksanakan sekali dalam setiap tahun yang sudah menjadi tradisi Pondok Pesantren Anwar Futuhiyyah Sleman, Yogyakarta sebagai awal tanda akan berakhirnya masa pembelajaran semester genap.
Semua santri yang hadir terlihat sangat antusias ikut serta dalam acara yang dihelat pada hari Sabtu malam, 28 April 2018. Setelah rangkaian acara pembukaan, para santri menunjukkan hapalan beberapa kitab yang disanadkan, antara lain yaitu Aqidatul Awam, al-Imrithi dan Alfiyah ibn Malik.
Pada acara akhirrusanah tahun 2018, di Ponpes yang diasuh oleh Kiai Muhammad Labib juga digelar Tabligh Akbar dengan penceramah KH Muhammad Hilmi Wafa, Lc (Pengasuh Ponpes Futuhiyyah Mranggen, Demak). Kiai Hilmi Wafa juga berkenan memberi ijazah Manaqib Syeh Abdul Qodir al Jailani dan Hizib Nasr.
“Alhamdulillah rangkaian acara berjalan lancar, dihadiri pula para wali santri, pejabat dan masyarakat, kata kiai Labib di pesantren yang berlokasi di dusun Blotan, kelurahan Werdomertani, kecamatan Ngemplak, kabupaten Sleman.
Kiai Hilmi Wafa dalam taushiyahnya mengingatkan, agar umat Muslim belajar ilmu agama dengan guru yang jelas, seperti halnya belajar atau mengaji di pondok pesantren. “Belajar agama kok sama mbah Google?” ucap kiai Hilmi Wafa.
Menurut dia belajar ilmu agama harus jelas sanadnya, seperti di pesantren ada kiai atau ustadz yang mempunyai pengetahuan agama yang cukup serta punya rujukan yang jelas; bersandar Al-Qur’an dan Hadits. “Jangan sampai belajar agama hanya mengandalkan google, nanti bisa menyesatkan," ucap kiai Hilmi.
Imam Syafi’i rahimahullah memberikan nasihatnya kepada penuntut ilmu bahwa ilmu bisa didapat dengan cara bersahabat dan dekat guru. Artinya dalam menuntut ilmu senantiasa kita tidak lepas dari bimbingan guru, ustadz, syaikh, ahli ilmu yang memiliki kapasitas keilmuan yang tidak diragukan untuk mengajarkan ilmu agama kepada kita.
Sehingga ketika ada pelajaran yang kurang bahkan tidak kita fahami maka kita bisa bertanya langsung dengan mereka. Jadi, kalau kita belajar hanya dari internet maka sanad kita akan terputus. Kan tidak mungkin saat ada orang bertanya nanti, siapa gurumu? Lalu anda menjawab, guru saya adalah ustadz atau syaikh internet.
Meski demikian internet juga memberikan manfaat, namun jika bisa memanfaatkannya dengan baik dan benar, maka internet bisa dijadikan sebagai salah satu sarana menambah ilmu dan sarana dalam menyebarkan dakwah, pengajaran dan informasi yang baik.
Sementara Direktur pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Ahmad Zayadi bebebrapa waktu lalu mengatakan, dalam beberapa dekade terakhir pesantren mengalami perkembangan jumlah luar biasa dan menakjubkan, baik di wilayah pedesaan, pinggiran kota, maupun perkotaan.
Data Kementerian Agama, menyebutkan pada 1977 jumlah pesantren hanya sekitar 4.195 buah dengan jumlah santri sekitar 677.394 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan berarti pada tahun 1985, di mana pesantren berjumlah sekitar 6.239 buah dengan jumlah santri mencapai sekitar 1.084.801 orang.
Dua dasawarsa kemudian, 1997, Kementerian Agama mencatat jumlah pesantren sudah mengalami kenaikan mencapai 224 persen atau 9.388 buah, dan kenaikan jumlah santri mencapai 261 persen atau 1.770.768 orang. Pada tahun 2001 ada 11.312 pesantren dengan 2.737.805 santri.
Kemudian pada tahun 2005 jumlah pesantren kembali meningkat menjadi 14.798 pesantren dengan santri berjumlah 3.464.334 orang. Pada tahun 2016 terdapat 28.194 pesantren yang tersebar baik di wilayah kota maupun pedesaan dengan 4.290.626 santri, dan semuanya berstatus swasta.
"Selain menunjukkan tingkat keragaman, orientasi pimpinan pesantren dan independensi kiai, jumlah ini memperkuat argumentasi bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan swasta yang sangat mandiri dan sejatinya merupakan praktek pendidikan berbasis masyarakat," kata Zayadi.