Tentang Kami Redaksi

lCMl Serukan Fastabiqul Khairat untuk Membangun Indonesia

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com


Jakarta, ParlemenRakyat

Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia (lCMl) menggelar Silaturahmi Nasional dan Halal bi Halal Kebangsaan, di Jakarta, Kamis malam (26/7/2018). Agenda kegiatan yang diselenggarakan lCMl tersebut mengambil tema Islam Perekat NKRI.

Sederet tokoh nasional dan cendekiawan Islam dijadwalkan hadir pada acara Silaturahim Nasional dan Halal bi Halal ICMI, antara lain Ketua Umum lCMI yang juga mantan ketua Mahkamah Konstitusi Prof DR Jimly Asshiddiqie, Ketua Dewan Kehormatan ICMl dan Presiden RI ketiga Prof DR lng BJ Habibie, Wakil Ketua Komisi ll DPR RI A Riza Patria serta lainnya.

Dalam acara yang digelar, para tokoh nasional dan cendekiawan Islam yang akan didaulat untuk menyampaikan pemikiran maupun sarannya untuk kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik. Apalagi memasuki tahun politik yang kini telah dirasakan hingga menjelang pemilihan legislatif dan Presiden tahun depan.

Menurut Jimly Asshiddiqie, tahun politik di Indonesia tetap penting menjaga kerukunan kebangsaan serta toleransi keberagaman. jangan sampai tahun politik yang mengarah pada suksesi kepemimpinan jadi arena pertengkaran. "Jadi berlomba-lomba saja memberikan kebaikan masing-masing biar rakyat yang menilai sosok pemimpinnya," kata Jimly.

Jimly mengungkapkan, dalam suasana demokrasi dapat saja kebebasan membuncah, khususnya soal kepemimpinan nasional. Kendati begitu, masyarakat yang mengusung calon pemimpinnya secara bebas jangan sampai merendahkan bahkan menghina kompetitornya. Dengan sikap kedewasaan berpolitik seperti itu, ucap Jimly, maka dipastikan masa depan Indonesia akan melaju unggul dan berkualitas. Ditambah lagi ruh persatuan Indonesia yang selama ini dijaga tetap merekat.

"Saling mencaci, menjatuhkan, menista lainnya adalah politik zaman jahiliyah yang harus ditinggalkan," kata Jimly, dalam orasinya di Kirana Room Hotel Kartika, Jakarta.

Jimly menganggap, tahun politik saat ini di lndonesia masih ada menunjukkan fenomena cara-cara yang buruk berkompetisi, misalnya saja seperti ramai cuitan di media sosial. Masih terjadi saling menista, memfitnah antar kubu terkait sosok pemimpin yang diunggulkannya. "Fenomena saat ini yaitu saling menista dan menjatuhkan yang terjadi di media sosial dan mainstream adalah politik tidak sehat. Cikal bakal Indonesia terbelakang jika terus berlanjut," tutur Jimly. (Ahr)