Tentang Kami Redaksi

MUI - Yayasan Muslim Sinar Mas Launching Buku dan Workshop Khutbah Jumat

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com



Jakarta, ParlemenRakyat

Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman (LPBKI-MUI) yang dibentuk tahun 2015 sebagai wujud tanggung jawab terwujudnya konten keislaman yang mencerdaskan didunia perbukuan dan media elektronik, menggelar Workshop dan Launching buku Khutbah Jumat Islam Penuh Rahmat, pada Minggu, 24 Februari 2019 di Hotel Sari Pacific, Thamrin, Jakarta.

Akan hadir narasumber: Prof. Dr. KH. Maaruf Amin (Ketua Umum MUI), Dr. Imam Addaruqutni,(Sekjen Dewan Masjid Indonesia), dan Drs. Solahuddin Al-Aiyub,M.Si (Wasekjend MUI) dengan peserta yakni: Utusan Komisi, Lembaga dan Badan MUI Pusat, Perwakilan Khatib SeJabodetabek, Stakeholders LPBKI-MUI, Penerbit.

Ketua LPBKI-MUI, Prof.Dr.H.Endang Soetari,Ad.,M.Si. dalam sambutannya mengatakan, Workshop Khatib ini digelar sebagai upaya optimalisasi peran dan kualitas Khatib dalam menyampaikan pesan-pesan ibadah Jumat untuk mengarusutamakan nilai-nilai Islam yang ramah, moderat, toleran, penuh tuntunan kemaslahatan umat dan bangsa.

"Meneguhkan harmonisasi nilai-nilai Islam dan komitmen berbangsa-bernegara, serta memperkuat kesejahteraan umat dan bangsa Indonesia baik mental maupun spiritual. Hal itu menjadi pijakan fundamental bagi upaya pewujudan kondisi kehidupan berbangsa dan beragama," tambahnya.

Prof. Endang juga menegaskan! Tidak mungkin pembangunan berjalan optimal jika kondisi umat beragamanya dipenuhi dengan konflik dan egoisme kelompok.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa ibadah Jumat dimana didalamnya ada khutbah dan shalat Jumat hukumnya wajib ditunaikan. Jika manajemen konten Khutbah Jumat dan pemberdayaan khatib Jumat–demikian halnya ibadah rutin agama-agama lainnya bisa dioptimalkan dengan baik, maka
akan terwujud kondisi penguatan narasi persatuan dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perbedaan mazhab dan afiliasi politik dalam umat Islam bisa didewasakan dan ditoleransi melalui konten dan khatib Jumat. Mengingat strategisnya ibadah Jumat yang tercakup dalam hal berikut ini:

Pertama, ibadah Jumat hukumnya fardhuain bagi muslim. Sifatnya instruktif dan tidak boleh ditinggalkan bagi muslim yang tidak ada halangan syari.

Kedua, ibadah Jumat bersifat rutinitas yaitu sekali dalam seminggu dihari Jumat. Intensitasnya
lebih banyak dibandingkan dengan ibadah shalat Idul Adha dan Idul Fitri yang hanya setahun sekali.

Ketiga, karena hukumnya fardhuain, maka sifat pelaksananya juga massif. Semua laki-laki muslim
yang tidak ada udzur syari wajib melaksanakannya.

Ketiga modal ini sangat penting sekaligus strategis jika konten khutbah dan sekaligus kualitas khatibnya dilakukan pemberdayaan yang seiring dengan tantangan situasi dan kondisi yang terjadi di daerah dan wilayah yang berbeda-beda. Sehingga, konten atau materi khutbah Jumat pun bisa meresponnya, "tutup" Prof.Dr.H.Endang Soetari,Ad.,M.Si. (Ahr)