Tentang Kami Redaksi

Tiga TNI AD Tewas, Nduga Kembali Memanas!

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com



Jakarta, ParlemenRakyat

Di tengah situasi politik bangsa kita lagi memanas menuju Pilres & Pileg yang tinggal hitungan hari lagi yaitu 17 April 2019. Publik tanah air dan bahkan masyarakat Internasional kaget dengan peristiwa konflik bersenjata yang terjadi di Kabupaten Nduga, Papua yang menewaskan 3 prajurit TNI AD oleh kelompok kriminal sparatis bersenjata (KKSB).

Hal ini begitu menyedihkan di saat pembangunan sedang di galakan oleh Pemerintah Jokowi untuk membangun Infrastruktur di bumi Cenderawasih. Kejadian tersebut menimbulkan berbagai spekulasi publik lokal yang ada di Papua, Nasional dan Internasional tentang kondisi Nduga Provinsi Papua.

Banyak media asing yang memblow UP isu Nduga menjadi isu internasional yang mana TNI-POLRI di salah kan dalam konflik bersejahta di Nduga Papua. Kehadiran TNI dan Polri di Nduga adalah bagian dari amanah UUD 1945 yaitu melindungi warganya dan Menjaga teritorial negara kesatuan republik Indonesia dari ancaman dalam negeri bahkan ancaman luar negeri yang ingin mengacaukan NKRI yang sudah tertata dengan baik.

luas Papua terdiri dari 7 Wilayah Adat Papua yang dalam keadaan kondusif, cuma daerah yang bergolak hari ini adalah wilayah adat lapago yaitu kabupaten Nduga. Aktivis sosial dan politik di Papua berjalan dengan normal, itu artinya tidak seluruh Papua bergolak.

Menyikapi hal itu, saya Hendrik Yance Udam (HYU), Selaku Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Rakyat Cinta NKRI (Gercin-NKRI) menyarankan pada semua pihak untuk dapat menahan diri jangan terpancing dengan isu konflik bersenjata di Kabupaten Nduga.

"Sebab kekerasan demi kekerasan tidak dapat menyelesaikan persoalan namun akan melahirkan kekerasan baru lagi yang berakibat fatal Kedepan," ujar HYU dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senen (12/3/2019).

Kelompok kriminal sparatis bersenjata yang hari ini melakukan Konflik bersenjata di Ndunga merupakan eksekutor dari kebijakan yang ada. Jadi yang harus di tangkap adalah intelektualnya yang mendesain konflik bersenjata di Nduga, yaitu kelompok yang memberikan logistik dan kelompok atau Tim loby secara lokal nasional dan internasional yang melakukan propaganda dengan menyebarkan berita hoax untuk menyuburkan semangat disintegrasi di papua.

Menurut pengamatan saya, kombatan-kombatan yang ada di Nduga hanya sekitar 50an orang saja. Mereka ini sedang memancing situasi politik di Papua supaya menjadi chaos dan menjadi perhatian dunia internasional, untuk itu kita jangan terpancing melakukan tindakan represif namun dengan gaya yang santun yaitu mendagri memanggil Gubernur Papua, Bupati dan walikota di Papua untuk duduk bersama dalam menyelesaikan krisis di kabupaten Nduga secara intelektual bukan secara fisik, harap HYU.

"Ir Soekarno Sang Proklamator RI, memerdekakan NKRI dengan Diplomasi, sehingga NKRI bisa Eksis hingga saat ini," kata nya.

Persoalan Papua sudah final dalam NKRI, untuk itu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan Papua yang berkepanjangan ini haruslah mengunakan jalur diplomasi Sehingga secara santun dan bermartabat kita terhindar dari isu HAM yang selama ini di tuduhkan kepada kita bangsa Indonesia dalam isu-isu Papua.
Kami memberikan dukungan kepada TNI dan Polri Untuk menjaga teritorial NKRI dari sabang sampai merauke. (Ahr)