Tentang Kami Redaksi

Darurat Rokok, Indonesia Stop! lklan, Promosi dan Sponsor Rokok

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com


Jakarta, ParlemenRakyat


Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, bekerjasama dengan Lembaga lain yakni; Ikatan Mahasiswa Magister Hukum Ul, Rumah Mediasi Indonesia, Smoke Free Jakarta, Ikatan Pelajar Muhamadiyah, IISD, Pusat Studi Ekonomi Bosnia Syariah Ul, Persatuan Wartawan Indonesia, Institute Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, LPA DKI Jakarta, LPA Papua, lPA Bekasi, LPA Depok, LPA Bogor, LPA Kota Jakarta Timur, dan Yayasan Bina Insan Mandiri.

Selanjutnya Lembaga-Lembaga tersebut hari ini, Kamis 21 Maret 2019, di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta. Telah menyampaikan hasil workshop strategi kebijakan nasional pelarangan total iklan promosi dan sponsor Rokok melalui peraturan perundangan nasional.

Dr. Seto Mulyadi, Psi., M.Psi., memaparkan bahwa rokok sejak lama menjadi permasalahan kesehatan global di seluruh dunia. Rokok menyebabkan kematian lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya dan masih akan terus meningkat di masa mendatang, diperkirakan menimbulkan kematian lebih dari 8 juta orang pada tahun 2030.

"Rokok yang merupakan produk tembakau diidentifikasikan sebagai faktor risiko berbagai macam penyakit seperti penyakit paru obstruksi kronik (PPOK), penyakit kardiovaskuler, kanker paru, dan sejumlah kanker tertentu," ujarnya.

Dr. Seto mengatakan, bagi Industri rokok, remaja merupakan jaminan keberlangsungan industrinya, karena kematian para perokok setia-nya tidak dapat dihindari disebabkan berbagai penyakit mematikan seperti kanker paru, kanker tenggorokan, kanker hati dan lainnya.

Rokok merupakan salah satu faktor utama pintu gerbang penyalahgunaan NAPZA di kalangan anak dan remaja, hal ini bisa dicermati bahwa dari 100 remaja perokok aktif di DKI Jakarta, 16 remaja yang menyalahgunakan NAPZA, sedangkan remaja yang bukan perokok hanya 0,38% menyalahgunakan NAPZA, ungkapnya.

Data survey tebaru LPAI terkait prilaku anak merokok, dari data yang di dapat sebanyak 73% anak merokok diawali dengan melihat iklan, promosi dan sponsor rokok di sekitar lingkungannya.

Menyikapi hal tersebut, Kami Koalisi Masyarakat Perlindungan Anak Dari Dampak Asap Tembakau Indonesia, menyampaikan beberapa hal terkait perlindungan anak dan bangsa dari dampak bahaya pengaruh produk tembakau yang bersifat adiktif, antara lain

Pertama, Negara WAJIB HADIR dan secara tegas menyatakan pelarangan total iklan, promosi dan sponsor rokok di media publik maupun media streaming (internet) untuk melindungi kelompok rentan, khususnya anak, perempuan dan keluarga miskin terpengaruh menkonsumsi produk rokok.

Kedua, perlunya Pemerintah menggunakan hak inisiatifnya untuk merancang Undang-Undang Penyiaran yang dapat memberikan edukasi dan perlindungan masyarakat atas hak penyiaran yang sehat dan tanpa kebohongan khususnya dalam mengatur iklan, promosi, dan sponsor produk yang ditayangkan di media public dengan melarang total iklan, promosi dan sponsor yang mengandung zat adiktif didalamnya termasuk produk nikotin.

Ketiga, Melalukan revisi atas PP No. 109 tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat adiktif Berupa produk Ternbakau Bagi Kesehatan, khususnya Pasal yang berkaitan dengan pengendalian iklan produk tembakau yang mengacu pada Undang-Undang Kesehatan.

Keempat, Mendorong adanya revisi UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, khususnya terkait pasal 59 Ayat (2) huruf e dan Pasal 67 yang menyatakan zat adiktif lainnya, dengan memasukan secara tegas kata "Tembakau dan/atau rokok" mengingat Tembakau dan/atau rokok secara ilmiah dinyatakan sebagai zat adkitif, hal ini sebagai bentuk kebijakan hukum negara dalam memberikan perlindungan anak dari dampak bahaya asap rokok.

Kelima, Mendesak Pemerintah RI untuk meratifikasi FCTC yang bertujuan untuk pengendala peredaran produk tembakau di Indonesia. Dan Negara wajib memberikan edukasi ke masyarakat, khususnya anak dan remaja yang rentan akan menjadi korban atas prilaku anak merokok, khususnya rokok elektrik tentang bahaya rokok elektrik terhadap proses tumbuh kembang dan kesehatan anak, keluarga dan masyarakat. (Ahr)