Tentang Kami Redaksi

AGS Hadirkan Buku: Pemilu Damai, Berintegritas dan Mensejahterahkan

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com



Jakarta, ParlemenRakyat

Bertempat di Ruang GBHN Gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, hari ini, Senin 01 April 2019, Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Agun Gunandjar Sudarsa (AGS) menggelar seminar serta peluncuran buku dengan judul "Pemilu Damai, Berintergritas dan Mensejahterakan".

Buku karya AGS ini adalah yang ke sekian kalinya di launching. Kini politisi senior Partai Golkar yang juga adalah Wakil Rakyat dari Dapil X Provinsi Jawa Barat, dan maju kembali sebagai caleg DPR RI 2019 meluncurkan buku kembali. Sudah beberapa buku menjadi karya Agun sejak dia duduk sebagai wakil rakyat di parlemen mulai era pemerintahan Orde Baru sampai saat ini yang tidak terputus.

Dalam seminar dan peluncuran buku pada kesempatan ini hadir sebagai nara sumber yakni: pengajar ilmu politik pasca sarjana Universitas Nasional (Unas), Dr Alfan Alfian, Direktur Eksekutif Perludem (Titi Angraini MH, pengajar ilmu politik Fisip UI yang juga mantan Komisioner KPU Pusat (Dr Valina Singka Subekti).

Selain itu, tak lupa hadir pula Letjen. (purn) H. Lodewijk F. Paulus, Sekjend DPP Golkar memberi sambutan. Juga tampil sebagai nara sumber Menteri Hukum Hak Azazi Manusia (Menkum HAM) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), M Andi Mattalatta yang kini duduk sebagai anggota Lembaga Pengkajian (Lemkaji) MPR RI.

"Buku ini sangat penting dibaca karena isinya menerangkan makna dari kedaulatan rakyat itu bagaimana. Selama ini kan masalah kedaulatan itu hanya dibicarakan dalam arti yang sangat sempit. Padahal pengertian kedaulatan rakyat itu sangat luas," kata Agun dalam Sambutannya.

Dalam bukunya, Agun memaparkan bahwa selama ini makna kedaulatan rakyat yang kerap digembar-gemborkan saat hajat pemilu masih berkutat dalam konteks kedaulatan politik saja.

Padahal makna kedaulatan itu menyeluruh, bukan saja di bidang politik, namun juga di bidang ekonomi, budaya, sosial, dan sebagainya.

Agun juga mengungkapkan, mengapa gagasan-gagasan cerdas para calon pemimpin ini diperlukan? Karena sejak pemilu era reformasi gagasan-gagasan tentang langkah menyejahterakan rakyat seakan tidak pernah muncul.

"Seperti terlihat pada fenomena mutakhir pemilu presiden 2019, mereka bukan sibuk menyampaikan gagasan-gagasan brilian tentang janji kesejahteraan rakyat, namun malah sibuk saling bully dan mencaci-memaki di media massa dan media sosial," ujarnya.

Sehingga yang terjadi bukan kontestasi gagasan tentang kesejahteraan rakyat yang amanat konstitusi tapi kontestasi saling menjatuhkan yang memicu perpecahan. Pemilu hanya bisa menyejahterakan rakyat, jika pemilu berhasil menciptakan rezim pemerintahan yang efektif.

Kemudian, Agun juga menjelaskan, bahwa pemerintahan efektif untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah pemerintahan dengan prinsip structure follow function dan money follow function.

Setiap para Pemimpin pilihan langsung rakyat pada pemilu wajib berpihak dan setia kepada rakyat dari Sabang sampai Merauke, karena Indonesia adalah setiap suku, agama, ras, golongan dan aliran yang ada didalamnya.

Menurut Agun, sejatinya kita melihat Indonesia harus dengan kebesaran hati, jiwa dan pikiran, tidak bisa dengan hati, jiwa dan pikiran yang sempit karena Indonesia ini adalah amanah dan takdir Tuhan Yang Maha Esa dan Yang Maha Besar.

Pada akhir bagian dalam bukunya, Agun berharap, perekonomian nasional yang tercipta pasca pemilu nanti tidak hanya menjaga kesinambungan bisnis usaha para konglomerat dan para pengusaha.

"Tapi juga berusaha mensinergikannya dengan potensi para pengusaha di tingkat provinsi dan kabupaten, termasuk juga menumbuhkan dan mengembangkan geliat perekonomian rakyat yang ada di desa. Inilah yang dimaksud Agun Gunandjar Sudarsa (AGS) sebagai pemilu yang menyejahterakan rakyat." (Ahr)