Tentang Kami Redaksi

Islamisasi Bugis Tidak Ada Paksaan

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Parlemenrakyat.com@ Proses Islamisasi di tanah air termasuk juga kepada suku Bugis berlangsung damai, penuh kearifan, tanpa pemaksaan.

Demikian benang merah yang terungkap pada diskusi buku Islamisasi Bugis di gedung Perpustakaan Nasional Jakarta, Sabtu (28/9/2019). Sebagai pembicara Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar, pengamat Nirwan Arsuka.

Nasaruddin Umar memaparkan, suku Bugis dikenal sebagai masyarakat pemberani juga terbuka, namun mudah menerima ajaran Islam. Nilai -nilai ajaran Islam sesuai dengan kearifan lokal Bugis.

Penulis buku Andi Muhammad Akhmar meneliti soal islamisasi suku Bugis melalui mahakarya La Galigo. Karya sastra ini merupakan epik-mitologis yang berasal dari zaman pra-Islam. Isinya tentang dunia dan penciptaan manusia atau asal-usul manusia pertama yang mendiami dunia. La Galigo disajikan dalam bentuk cerita bersyair, epik, atau puisi wiracarita.

Melalui karya itu diketahui bahwa sebelum Islam diterima secara formal oleh kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan, orang Bugis pada umumnya menganut sebuah kepercayaan. Kemudian Islam datang dan menggunakan warisan sastra Bugis kuno tersebut sebagai media untuk menyampaikan misinya.

Islam diterima dengan penuh kearifan. "Andaikata penyebaran Islam di Bugis dilakukan dengan paksa mungkin ada peperangan," kata Akhmar.