Tentang Kami Redaksi

7 Tokoh Peroleh Penganugerahan Zakat Wakaf

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Parlemenrakyat.com@ Kementerian Agama memberikan penghargaan kepada para tokoh yang berjasa bagi perkembangan zakat dan wakaf di Indonesia, yang makin akuntabel dan profesional.

Hal itu menumbuhkan minat di kalangan masyarakat untuk memperhatikan zakat sebagaimana salah satu amanat dalam Rukun Islam.

Pengelolaan zakat dan wakaf yang kian profesional dan juga dapat dipercaya tak lepas dari peran tujuh tokoh yang berkontribusi mendorong pertumbuhan zakat serta wakaf. Perannya meliputi berbagai aspek dan medium pergerakan yang digeluti.

Ketujuh tokoh tersebut antara lain pakar literasi zakat (alm) Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ulama Inspirator Gerakan Wakaf (alm) KH Tolchah Hasan, Penggerak Zakat dan Wakaf Tulus Sastrowijoyo, Inspirator Gerakan Zakat Achmad Subianto, Tokoh Literasi Wakaf (almh) Uswatun Hasanah, dan Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaedi.

“Ketujuh tokoh ini berhasil menggugah kita bagaimana zakat dan wakaf ini bisa menjadi lebih baik (saat ini) di Indonesia,” kata Menteri Agama Fachrul Razi saat memberikan sambutan di malam acara penganugerahan kepada tujuh tokoh inspiratif zakat dan wakaf, di Jakarta, Ahad (10/11) malam.

Dia membeberkan bahwa malam penganugerahan tersebut bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional. Di mana menurutnya, makna pahlawan bukan hanya mengacu pada tokoh-tokoh yang jasadnya terbaring di Taman Makan Pahlawan Kalibata.

Di luar itu, pahlawan yang jasadnya terbaring di wilayah lain bahkan yang tak diketahui nasib jasadnya juga patut dikenang. Pahlawan juga, kata dia, dapat diartikan dan mengacu kepada mereka yang berjasa dan memberi kontribusi terhadap suatu bidang yang dinikmati manfaatnya secara nyata.

“Baik yang sudah pergi (meninggal) maupun yang masih hidup, jika mereka berkontribusi pada kemaslahatan umat dan negara, itulah pahlawan. Ketujuh tokoh ini adalah pahlawan zakat dan wakaf,” ungkapnya.

Sebelum adanya kontribusi ketujuh tokoh tersebut, lanjut dia, pengelolaan zakat dan wakaf di masa lalu kerap amburadul. Akibat rendahnya pengelolaan yang tak akuntabel, minat membayar zakat dan melakukan wakaf bagi masyarakat makin rendah. Di samping masih rendah juga kemampuan masyarakat untuk membayar zakat kala itu.

Pada perkembangannya, zakat dan wakaf kemudian berkembang semakin luas. Di Indonesia pun, lembaga penyalur zakat saja sudah semakin bergerak memperlebar layanannya dengan menerapkan digitalisasi zakat.

“Sedangkan untuk wakaf, ada kemudahan-kemudahan. Misalnya pengurusan sertifikatnya sekarang sudah gratis,” ungkapnya.

Ke depan dia berharap pengelolaan zakat dan pengembangannya makin memberikan manfaat yang luas kepada umat. Selain itu, penyaluran zakat dan wakaf juga bisa semakin tepat sasaran.