Tentang Kami Redaksi

Anwar Abbas Pertanyakan Menag Sering Bicara Radikal

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Parlemenrakyat.com@ Tak ada angin tak ada hujan, Menteri Agama Fachrul Razi kembali bicara radikal. Menurut dia, penetrasi pemahaman agama ekstrim bisa terjadi dimana saja termasuk di rumah ibadah. Bahkan aktifis masjid yang tampak "good looking" bisa saja menjadi pembawa pesan radikal.

Mencermati masalah itu, Sekjen Majelis Ulama Anwar Abbas pun melayangkan surat terbuka untuk Menteri Agama. "Menteri Agama kalau berbicara ujung-ujungnya radikalisme. Dan yang kena ujung-ujungnya umat Islam," demikian Anwar.

"Kita memang tidak setuju dengan radikalisme karena ujung-ujungnya tidak mengenakkan bagi banyak pihak terutama pihak tertentu. Tetapi mestinya Menteri Agama juga mempersoalkan kenapa muncul radikalisme?"

Sebagai pemerhati masalah sosial, ekonomi dan keagamaan, Anwar Abbas mengungkapkan, menurut Menteri Agama tentu karena kurikulum dan buku-buku ajar yang ada memuat hal tersebut, atau karena banyak dai yang berfikiran demikian. Oleh karena itu solusinya bagi beliau ganti atau sempurnakan bukunya serta jangan lagi menghadirkan dai-dai dan penceramah yang bicaranya suka mengkritik rezim. Apa yang dikritik oleh dai-dai dan penceramah-penceramah tersebut?

Yaitu adanya Ketidak adilan dan diskriminasi serta tidak tegaknya hukum di negeri ini. Hukum di negeri ini tajam ke bawah tumpul ke atas. Juga banyak uu dan kebijakan yang dijadikan dasar oleh para pejabat untuk mencari rente dan berkolusi dengan para pemilik kapital untuk meraup keuntungan bagi dirinya dan kelompoknya sehingga kita lihat banyak sekali rakyat yang menjerit kesakitan karena perlakuan pihak aparat yang melakukan KDKM atau kekerasan dalam kehidupan masyarakat.

Kalau ada yang melakukan KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga apakah itu suami atau isteri maka mereka bisa ditangkap. Itu jelas bagus. Tapi kalau ada pejabat dan atau aparat serta pengusaha atau pemilik kapital yang melakukan kekerasan dalam kehidupan masyarakat apakah bentuknya berupa lisan atau fisik siapa yang menindak ? nyaris tidak ada yang menindak bahkan kita melihat orang-orang yang telah melakukan tindak kekerasan tersebut tetap saja bebas dan duduk dengan pongahnya di singgasananya masing-masing dengan wajah tanpa merasa berdosa.

Lalu para dai berteriak membela hak2 rakyat yang tertindas tersebut. Mereka dianggap dan dicap sebagai provokator dan radikal. Benarkah ini ? Kalau dilihat secara luas dan jernih ya tidak benar. Oleh karena itu kalau kita bicara radikalisme jangan hanya diujung atau di muaranya saja tapi cari penyebabnya sampai kehulunya.

Kita akan menemukan inti masalahnya yaitu adanya ketidak adilan diskriminasi dan lain2 sifat tercela. Oleh karena itu kalau menteri agama mau memberantas radikalisme secara serius maka jangan hanya bicara di muaranya saja tapi menteri agama harus bicara secara komprehensif dan totalitas lalu membuat program untuk menghentikan segala bentuk ketidak adilan dan diskriminasi yang ada di negeri ini sampai ke akar-akarnya.

Kalau akar dari radikalisme itu tidak bisa kita hilangkan maka radikalisme yang tidak kita sukai itu tetap akan muncul sehingga dia menjadi pekerjaan yang sia-sia yang menghabiskan waktu, dana dan tenaga karena dia menjadi pekerjaan yang tidak pernah usai. Dan kita jelas tidak mau itu.

Oleh karena itu kita menghimbau menteri agama agar mulai berani bicara tidak hanya tentang radikalisme saja tapi juga bicara tentang penyebabnya dimana sumbunya adalah karena banyaknya praktek ketidak adilan dan diskriminasi serta perbuatan tidak terpuji lainnya yang harus kita stop dan hentikan . Ini perlu kita lakukan agar negeri ini bisa menjadi negeri yang maju adil dan makmur dimana rakyatnya hidup dengan aman tentram damai dan bahagia. Bukankah itu yang menjadi tujuan kita bersama dalam bernegara?