Tentang Kami Redaksi

Nilai Luhur Pancasila Tak Boleh Luntur

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Parlemenrakyat.com@ Dewan Pimpinan Pusat Cendekiawan Muda Muslim Indonesia (DPP CMMI) menggelar Rakernad dan Refleksi Akhir Tahun Kepemimpinan Ir. H. Joko Widodo – KH. Maruf Amin di Jakarta, Rabu (23/12/2020).

Kegiatan yang diikuti generasi muda itu dibuka oleh Kombes Pol Budi Wijaya Dirbinmas Polda Jaya mewakili Kapolda Metro Jaya. Hadir pula sebagai pembicara; Direktur Pengkajian dan Materi BPIP Muhammad Sabri, Pengurus PP Bakomubin Fahri Timur dan Ketua Umum DPP CMMI Anhar Tanjung.

Budi Wijaya dalam sambutannya acara bertema “Bersama Aktivis Muda Muslim; Merajut Ukhuwah Islamiyah Dalam Bingkai Pancasila” mengingatkan generasi muda untuk menjaga ideologi bangsa yaitu Pancasila. Menurut dia, nilai-nilai luhur Pancasila tidak boleh luntur.

Sementara Fahri Timur menyampaikan, ukhuwah Islamiah dalam bingkai Pancasila bisa kita lihat dalam pendekatan antara lain dikarenakan: genetika, aspek religi, aspek politik.

Menurut Fachri, Persaudaraan bisa ditakar oleh kepentingan. Bahkan pada aspek religius, kepentingan juga
Kemajemukan kita bisa diakomodir dan mampu merajut oleh Pancasila.

"Bukan hanya dalam teks teks Pancasila. Tapi, kenapa orang masih mempertanyakan saya Pancasila," ungkap pria Advokat ini dalam acara yang bertajuk "Bersama Aktivis Muda: Merajut Ukhuwah Islamiyah dalam Bingkai Pancasila".

Menurut aktivis PP Bakomubin ini seraya mengutip Budayawan dan Wartawan senior, Mochtar Lubis, saya ingin mengatakan, dalam tulisan orasi kebudayaan, ia merumuskan ada lima karakter negatif orang Indonesia. Yaitu:
Pertama, orang Indonesia punya karakter munafik, karena antara kata dan perbuatan tidak sama.

2. Mudah bersikap Segan dan tidak punya tanggung jawab, misalnya, dalam kondisi tertentu dia mudah mengatakan itu bukan urusan saya, saya netral saja.

3. Karakter lemah.
4. Suka percaya kepada takhayul, praktek pedukungan masih banyak.

5. Orang Indonesia berwatak feodal, mereka pingin terus berkuasa selamanya, mereka ingin menikmati sebagai seorang pejabat.

Sehingga, tambah Fachri, dalam pelaksanaan ukhuwah kebangsaan dan bernegera, apakah benar orang Indonesia memiliki karakter sama seperti apa yang diungkapkan oleh Mochtar Lubis?

"Namun Kalau kesepakatan politik itu hanya kepentingan, maka
Kita akan dijauhkan dari semangat ukhuwah," pungkas Fachri. (