Tentang Kami Redaksi

PKPM Gelar Diskusi Pemikiran Muhammad Iqbal

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Parlemenrakyat.com@ Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM) menggelar refleksi dan diskusi akhir tahun 2020 bertajuk
"Pemikiran religius revolusioner sastrawan muslim Muhammad Iqbal dalam perspektif peradaban melayu".

Acara tersebut berlangsung menyesuaikan protokol kesehatan Covid 19 secara daring dan tatap muka di Perpustakaan DKI di komplek TIM Jakarta, Selasa (29/12/2020).

Diskusi diawali sambutan Ketua PKPM Dr. Masud HM. Nur, seba
gai narasumber; Prof. Abd. Hadi WM ( Sastrawan/ Budayawan, Diki Lukman (mewakili Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Jakarta), Desyanto, MP.d (Pemimpin Jurnal Ilmiyah Peradaban) dan Nanang Suryana (Kepala Perpustakaan HB Jasin.

Abdul Hadi WM mengungkapkan Muhammad Iqbal adalah seorang filosof, sastrawan sekaligus ahli ekonomi. uDengan Asrar-l Khuldi, Iqbal menegaskan bahwa setiap manusia harus mengembangkan potensi diri dalam mengemban tugas kekhalifahan yang disadari
kecintaan kepada Allah.

Potensi yang dimiliki manusia dan kaitannya dengan dinamika sosial
dijadikan Iqbal sebagai kerangka dasar dalam mengembangkan konsep ijtihad dalam menghadapi tantangan modernitas. Bahkan pola pikirnya yang demikian memiliki andil besar terhadap berdirinya negara Islam Pakistan sebagai hasil perjuangan melawan penjajah dan pergolakan politik di India Pra-kemerdekaan.

Menurut Abdul Hadi, ulama atau kaum intelektual pada umumnya adalah pewaris Nabi, maka seorang intelektual Muslim tidak patut berpangku tangan, melenakan ilmu yang diperolehnya hanya demi nasibnya seorang.

Ilmuwan Muslim tidak boleh diam, sementara dunia kaumnya perlahan-lahan tenggelam dalam kemalangan. Dalam pada itu, Iqbal melihat kalangan terpelajar Muslim sezamannya banyak yang tak lagi mengenal hakikat universal ajaran Islam dan khazanah kebudayaannya yang begitu kaya.

Berbicara tentang Indonesia, menurut Abdul Hadi yang mempersatukan bangsa Indonesia adalah Islam dan bahasa Melayu. "Bahasa Indonesia harus dirawat, tidak seperti sekarang dirusak," ujarnya.

Dia juga mengungkapkan tentang khazanah Islam yang pudar di tanah air seperti tulisan Arab Melayu atau Arab Jawi atau Pegon. Di masa lalu karya ilmiah termasuk juga karya sastra di Nusantara banyak ditulis dengan tulisan Arab Melayu atau Arab Jawi.

Namun kini, tulisan Arab Melayu menjadi asing, hanya santri di pesantren yang masih menggunakan sebagai terjemahan dari kitab kitab kuning yang berbahasa Arab. "Orang tua kita dahulu meski tak bisa menulis latin, tapi bisa membaca karena banyak buku ditulis dengan tulisan Arab melayu," kata Abdul Hadi.

Sementara Ketua PKPM Masud mengatakan, pihaknya peduli dengan pengembangan budaya melayu termasuk literasi melayu khususnya yang terkait dengan khazanah Islam. Untuk itu PKPM sudah menggelar diskusi tentang sastra maupun sastrawan muslim. "Kita pernah pula menggelar diskusi tentang Buya Hamka," ujarnya.