Tentang Kami Redaksi

Diskusi Alumni Thawalib: Islam Agama Dunia dan Akhirat

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Parlemenrakyat.com@ Islam sebagai rahmat dan petunjuk Allah SWT adalah bimbingan untuk mencapai hidup bahagia dunia dan akhirat. Islam bukan hanya agama untuk membimbing manusia bagaimana mati bahagia, tetapi juga sebagai bimbingan kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan baik sosial, ekonomi maupun politik.

Demikian benang merah yang terungkap pada diskusi bertema "Sekularisme vs Syariah" yang dihelat Ikatan Alumni Thawalib Jakarta pada Ahad 10 Januari 2021 di Kampus STAI Publisistik Thawalib Jl. Kramat II No. 13 Kwitang, Jakarta Pusat.

Diskusi menghadirkan pembicara; Drs Mansub Ghazali (pengasuh STKIP Muara Bungo Jambi), Drs Zainul Mustafa MPd (praktisi pendidikan), penyanggah Kusen MA, Ph. D dimoderatori Dr Theo Yusuf MS MH. Hadir sesepuh Thawalib Dr Sidi Nurzengky Ibrahim, serta para alumni yang berkiprah di berbagai profesi.

Mansub Ghazali memaparkan, Sekularisme versus Islam merupakan masalah klasik, yang sudah ada sejak masa Nabi Adam alaihi salam, diwakili oleh Habil dan Qabil. "Habil mewakili syariah, dan Qabil mewakili sekularisme. Selalu terjadi perselisihan," ungkap Mansub.

Menurut dia, kondisi saat ini terjadi fenomena perbedaan sosial, ekonomi dan politik berakar dari warisan masa lalu sehingga menjadi dua kubu. "Mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena kedua kelompok itu tidak pernah damai," ujarnya.

Meski demikian Mansub merasa optimis Islam aksn terus berkembang. "Indeks Islam meningkat," ujar Mansub yang juga alumni Thawalib Jakarta.

Sementara Zainul Mustofa memaparkan Islam merupakan agama yang total, agama yang menyuguhkan kepada pemeluknya suatu proyek kemasyarakatan, suatu program yang harus diwujudkan di muka bumi. Islam adalah agama dan negara.

Pemisahan Islam dan negara, menurut Zainul, terjadi setelah kehancuran Kesultanan Turki. Lalu pemimpin Republik Turki Mustafa Kemal menempatkan Islam hanya sebagai kepercayaan personal. " Turki dinyatakan sebagai negara yang menganut paham sekuler."

"Adapun Indonesia, meski pernah terjadi kasus pencoretan tujuh kata pada sila pertama Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu; dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk pemeluknya, menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, namun Indonesia bukan negara sekuler," papar Zainul.

Adapun terkait indeks kebahagiaan bangsa, yang menempatkan negara sekuler mayoritas lebih bahagia ketimbang negara Islam, menurut Zainul, parameter survey itu masih kurang, karena pengukurannya hanya berlandaskan pada faktor tenaga kerja dan ekonomi yang didasari materi.

"Meskinya kebahagiaan juga diukur dari religiositas. Karena agama juga berpengaruh terhadap kebahagiaan," kata Zainul, alumni Thawalib Jakarta periode pertama.

Menurut Kusen, paham sekuler sebenarnya bagian dari agama. Sebagaimana diisyaratkan Nabi SAW;
"Kamu lebih tahu urusan duniamu."

Bila kondisi umat Islam saat ini masih tertinggal, kadang terjadi konflik sesama umat Islam, menurut Kusen karena sesama umat justru saling menghalangi. "Al Islam mahjubun bil muslimin," ujarnya.

Sesepuh Thawalib, Sidi Nurzengky Ibrahim berharap kegiatan diskusi alumni Thawalib Jakarta dapat terus berlanjut, sebagai wadah meningkatkan jalinan silaturahmi.

Terdapat sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (terlepas dari status atau tingkatannya) yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radiallahu anhu yang artinya; "Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau mati esok."