Tentang Kami Redaksi

IJMI Bersama SII Giatkan Literasi Anti Hoax

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Parlemenrakyat.com@ Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam Indonesia (SII) 1905 dipimpin Presiden Lajnah Tanfidziyah SII KH Muflich Chalif Ibrahim menyambut baik silahturahmi yang dilakukan Ikatan Jurnalis Muslim Indonesia (IJMI), sekaligus berbuka puasa bersama di kantor DPP SII, Jalan Latumeten No.16 Jakarta Barat.

Dalam sambutannya, Presiden SII KH Muflich Chalif Ibrahim mendukung gerakan literasi anti hoax, agar umat Islam tidak tertipu daya dengan informasi yang tidak jelas bahkan menyesatkan.

"Kami bersama teman media ingin menghindari berita hoax. Kami juga ingin meluruskan sejarah tentang Syarikat Islam Indonesia," ujar Muflich Chalif.

Syarikat Islam Indonesia disingkat SII atau SI-Indonesia adalah organisasi massa pertama dan tertua di Indonesia. Organisasi ini lahir pada 16 Oktober 1905, awal berdirinya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI).

Pada tahun 1920 atas prakarsa H.O.S. Tjokroaminoto organisasi ini bermetamorfosa menjadi Partai Politik, Partai Syarikat Islam Indonesia. Namun pada tahun 2003 beralih kembali menjadi organisasi Massa.

Muflich Chalif juga mengatakan, saat ini ada kesenjangan antara ulama dan umaro. Padalah eksistensi ummat Islam dalam melindungi negara dari penjajahan tidak perlu disanksikan.

"Berdirinya negara karena adanya agama lebih dahulu. Elaborasi ulama dan umaro menjadikan negara NKRI ini sampai sekarang masih eksis” ujar Muflich Chalif

Sementara Ketua Umum IJMI, M.Harun mengatakan saat ini ummat Islam mengalami dekadensi narasi dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Harun menambahkan Ikatan Jurnalis Muslim Indonesia ingin berelaborasi bersama semua kalangan, stakeholder untuk membangun Literasi ummat Islam dimana saat ini terasa sekali kesenjangan.

Ada kesenjangan ulama dan umaro saat ini seperti yang dikatakan Presiden Lajnah Tanfidziyah (LT) dari Syarikat Islam Indonesia, KH Muflich Chalif Ibrahim diawal.

"IJMI ingin memediasi friksi friksi yang mana adalah karena kelemahan kita dalam membangun narasi dan literasi," ujar Harun.