Tentang Kami Redaksi

BAPENNAS FASILITASI CONFERENCE ON BEST DEVELOPMENT PRACTIES AND POLICIES

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

Jakarta, Parlemen Rakyat.
Bappenas International Conference on Best Development Practices and Policies adalah kegiatan dalam rangka menjaring ide, gagasan dan pemikiran implementatif bagi peningkatan kualitas pembangunan nasional. Bappenas bekerja sama dengan Knowledge Sector Initiative (KSI) dan sembilan perguruan tinggi serta tiga organisasi masyarakat. Dilaksanakan selama 2 hari pada Rabu (19/8) dan Kamis (20/8) di Jakarta.

Beberapa Perguruan Tinggi yang terlibat , antara lain Universitas Indonesia, UGM, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Sriwijaya, Universitas Hasanudin. Sementara organisasi sipil yang terlibat, antara lain Kemitraan, Prakarsa, Percik, CSIS, KPPOD, AKATIGA, Knowledge Sector Inisiative, dan Australian Aid.

Konfrensi yang dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan melalui pengembangan perencanaan berbasis fakta yang diarahkan agar berdampak positif bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan kualitas kerjasama antara masyarajat umum, sipil dan swasta.

Dihadiri oleh Menteri Pembangunan dan Perencanaan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Dr Sofyan Djalil. Mr. James Gilling, Head of Australia’s Development Cooperation Program in Indonesia, Robin Bush dari Knowledge Sector Initiative, dan Deputi Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Dr. Ir. Leonard VH. Tampubolon, MA.

Dalam sambutannya Sofyan Jalil mengatakan diskusi ini perlu ditradisikan sehingga banyak sekali pengalaman baik yang sudah ada, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga tidak perlu perencanaan baru.
"Saya percaya bahwa sebuah negara maju terjadi bukan karena Sumber Daya Manusia tapi karena good porsi." Jelas Sofyan.

Menurutnya, Indonesia sudah cukup banyak mendapat pengalaman.
"Kecenderungan saat ini adalah banyaknya kebijakan yang dibikin bukan karena basis data tapi karena tradisi yg seperti ini. Dan ini sangat menguntungkan. Dimana penelitian penelitian yang bagus; berkenaan dengan hasil karya dosen atau mahaisiwa kita yang harus di implementasikan. Dan policies yang baik adalah berdasarkan riset" Ujar Sofyan.

Sofyan menjelaskan kekawatirannya Berkenaan dengan poliece ketahanan pangan dan ketahanan energi. dimana cadangan minyak Indonesia hanya tinggal setahun. Harus dicari sumber energi baru.
"Indonesia menjadi negara yang paling tinggi coast policiesnya dibandingkan negara lain di dunia." tambah Jalil.

Menyoalkan generasi muda Indonesia, sofan Jalil mengatakan bahwa anak anak kita akan masuk dalam dunia yang tidak bisa dibayangkan sebelumya.
"Teknogi komputer akan mnggantikan apa saja. Jadi generasi ini harus dididik. Sebab teknologi juga menciptakan efek yang destruction yang harus di antisipasi.
"Saya berharap konfrensi ini akan menghasilkan hal hal yang sangat bermanfaat bagi Indonesia." harap Sofyan.

Sementara itu, Mr James Gilling Head Head of Australia’s Development Cooperation Program in Indonesia, menjelaskan bahwa pertemuan tahunan antara australia dengan Indonesia bertujuan membicarakan kemitraan pembangunan untuk 10 tahun ke depan yang ada dalam kerangka pemerintah kedua negara dimana pengalaman dalam pembangunan kedua negara akan berguna dalam konfrensi ini.
"Kemitraan pembangunan baru yang mungkin dengan kualitas lebih kecil namun dengan mutu lebih baik. Dan menurut saya ini adalah salah satu faktor penting yang ditawarkan oleh Australia kepada Indonesia." Kata James Gilling.

Menurut James, program ini adalah hal yang bagus sekali. Dimana saya akan tunjukan satu atau dua fitur utama dalam kemitraan ini.
"Pertama, adalah pengalaman praktek. Dimana terdapat pengalaman pengalaman pembangunan kedua negara yang dapat dilihat melalui fakta nyata kedua negara. Kedua adalah kebijakan berbasis bukti, dimana Indonesia beruntung sekali memiliki menteri baru yang telah siap." jelas James. Menurutnya kemitraan indonesia dengan Australia sangat penting.

Konfrensi ini terselenggara atas kerjasama dengan departemen hubungan luar negeri dan perdagangan Australia melalui Knowledge sector Initiative.